Belum lama ini pesawat Air Asia QZ8601 terjatuh ada sawat kanan tidak berpungsi, sehingga kehilangan stabilitas, minggu (04/02).
Pesawat Airasia yang di banggakan oleh perusahaan penerbangan ini, kena sayat.
Bahkan sayap kanan tidak berpungsi, dan mengalami oleng.
Pihaknya, dalam manajemen Airasia ini akan mengkaji kembali.
Bahwa keputusan Menhub itu tidak profesional.
“Dengan persaingan bisnis, jangan mengaitkan penerbangan murah”, katanya Soerjanto Tjahjono.
Ia lanjutkan, bahwa kemenhub tak elok berbicara asal, karena akan mempengaruhui berbinis internasional.
Kata dia, ia berharap kerugian perusahaan Airasia ini milyar rupiah rugi, setelah jatuhbya pesawat yang ia banggakan ini oleh manajemen perusahaan.
“Pasca-jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan mengambil keputusan mengejutkan”, katanya.
Dirinya berencana membekukan penerbangan berbiaya murah atau yang dikenal sebagai low cost carrier (LCC).
Namun banyak yang menyayangkan keputusan tersebut.
Ada pula yang menyatakan, keselamatan penerbangan tak ada hubungannya sama sekali dengan LCC.
Seperti diungkapkan seorang investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono.
“Kami belum pernah menemukan Kecelakaan pesawat karena LCC,” kata Soerjanto dalam dialog Bukan Cari Kambing Hitam Selamatkan Penerbangan Nasional di jakarta, Minggu (25/1/2015). dikutip liputan6.com
“LCC itu sederhana seperti Avanza, dan Garuda kayak Marcedez, nggak ada yang salah dengan LCC,” tutur dia.
Selain soal LCC, Soerjanto turut angkat bicara soal pesawat tua yang masih digunakan beberapa maskapai penerbangan komersial nasional.
Sama seperti LCC, kata dia, pesawat tua sebenarnya tak selalu berhubungan dengan keselamatan terbang.
“Tak ada satupun kecelakaan di Indonesia karena pesawat tua. Sepanjang dirawat sesuai regulasi yang berlaku nggak ada masalah,” tandas Soerjanto.