Jakarta, postjkt.com—Puisi – Hapus Marah di Matamu
Hujan mengguyur hatiku yang
gelisah, lalu menanyakan kita
yang terpisah, akankah kembali
menjadi sebuah kisah
Ku sadari semua terhenti karena
ulahku, kelakuanku menggores
luka di hatimu, sesuatu yang
kini ku sesali di hidupku
.Peluh nya bermandikan kasih sayang, rintihannya bertaut memohon keselamatan, dia berjuang meski penuh kesakitan, dalam pejamnya dalam tidur nya dia berharap kasih pada Kekasih Nya, berjuang demi orang-orang yang masih membutuhkan nya, …
Pergilah dengan keikhlasan sungguh tugasmu telah tertuntaskan, tenanglah dalam persimpangan, baik-baik lah dalam lorong perjalanan, dimensi waktu mungkin akan terganti tapi tidak dengan hati ini.
Semoga para malaikat menyambut mu dengan cinta dan penghargaan yang utuh, karena telah ikhlas membesarkan anak Yatin piatu, semoga ditempatkan ditempat yang tertinggi dan disambut hangat oleh para bidadari surga Ilahi.
Terimakasih telah menjadi ayah dan ibuku
“Sebatas Bayang Mu”
“Waktu terus bergulir namun rindu tak pernah berakhir,
menjelajah di setiap sudut aliran takdir yang terus mengalir.
duri berserakan menghalangi tiap jengkal langkah ku
diiringi nestapa yang penuh dengan kepedihan.
“Pada bisikan melodi rindu
simfoni mengalun begitu merdu
menjadikanku seorang pecandu kerinduan.
“Kau menjelma dalam degup jantung,
detak mati kembali hidup
bunga cinta yang layu kembali menguncup,
biarkan kupeluk angan
walau sebatas bayang Mu.
pada hitungan waktu tanpa batasan.
Siapa aku ? siapa dirimu ?
“Berkali-kali kusampaikan
tentang rasa yang menjerat
melingkar di setiap sendi
bahwa kau sangat berarti.
“Dan anehnya
kau seolah tak peduli
bahkan tebarkan keraguan
hingga ku terdiam
terkapar dalam kepahitan.
“Kau,
adalah yang terindah dalam hidupku
telah mengajarkan makna kebersamaan
meski kini
aku hidup dalam bayang bayang.
lantunan aksara seberkas cinta yang tersisa.
Red postjkt.com
.
.





